Langsung ke konten utama

Postingan

Ku Pikir Aku Sudah Mati #1

"Nyaman" tak akan bisa kau buat-buat. Apalagi kau paksa-paksa ikut "menyatu" dengan matcha favorit dan pemikiranmu.
Entah lagi, kalau lama-lama menjadi "terbiasa". Kemudian terus mengganggu yang ada, dari hati sampai kepala, bukan sebaliknya - kepala sampai hati. 
Saat itulah, perlu ku bangun tameng tinggi-tinggi untuk membatasi, agar "nyaman" tak menjalar dan merajai. Ku pikir aku sudah mati.
"Ku pikir aku sudah mati".
Postingan terbaru

Go, Fly To Happiness #1

hidup memang penuh pilihan, dan memilih pasti mempunyai konsekuensi positif dan negatif. 
... yaa, yang perlu ku sadari bahwa merasa very very stupid and helpless adalah pikiran yang menghambatku untuk menentukan pilihan yang terbaik. kebahagiaan adalah tanggung jawab kita masing-masing. jadi, kalau aku mengatakan "aku ingin hidup bahagia", maka hal ini menjadi tanggung jawabku sendiri untuk mewujudkannya. 
banyak dari kita salah mengartikan memaafkan itu sama dengan melupakan rasa pedih dan sakit hati. melupakan artinya tidak bisa lagi mengingat kejadian dan pengalaman-pengalaman buruk, menghapus kenangan atas apa yang sudah terjadi. otak tidak seperti komputer, bisa mendelete file dengan satu klik saja.
bagaimana kita bisa lupa ketika seseorang yang sangat kita percayai mengkhianati kita ? bagaimana kita bisa lupa ketika sesorang yang kita kagumi selalu bertindak kasar kepada kita ? bagaimana kita bisa lupa ketika seseorang yang nampak paling tulus mencintai berujung perg…

Sakit Me-Rindu

Sakit berusaha memaklumi.  Hanya itu yang dia bisa.  Memaklumi itu bagian dari usahanya untuk memelihara cintanya pada Rindu. 
"Boleh aku duduk ?"
Sejak kapan aku bisa melarangmu ?
Kata-kata itu, terlalu sering.  Sudut mataku meledak, magma didadaku tumpah begitu saja.
Itu kesekian kalinya Rindu mendatangi.
....
Disini, apapun resahmu pasti akan bubung ke udara. Untuk beberapa alasan kopi rasanya lebih nikmat kau seduh bersama Sakit dan Rindu. 


Sepatah Alasan

Nyaris membuatku terpelak. Sungguh, aku sendiri takjub dibuatnya. Kepalaku pening.
Dadaku kembali berdetak kencang kala mendapatinya, tapi ada sebuah pertanyaan terbetik dalam benakku.

Tik Tok Tik Tok, Lupakan saja pertanyaanku.

"Aku benar-benar membenci semua ini."

Tak tanggung-tanggung, barang sekali duakali aku bisa saja takkan tersinggung.
Tak ada reaksi apapun, aku pun tergantung.
Hanya menunggu detik air mataku mengantung.

Semula ku pikir bahwa hal ini akan seperti yang sudah-sudah, terkubur... seolah semua baik-baik saja, namun ternyata kali ini aku yang salah menduga.

'Menenangkanku, Menyentuhku' saja enggan.
Apalagi yang harus ku paksakan ?
Masih saja ingin mendapat alasan ?
Ya !
Alasan kita memulai. Agar kita tidak gampang mengakhiri !




Jadi, Ini Tentang Cerita Kita

Jadi, ini tentang cerita "kita".
Mungkin kau hampir bosan ketika berulang-ulang aku menuliskan ini, tentang ketenangan yang telah pecah seperti gelas kaca yang diam-diam jatuh dan pecah.
Bosan sekali.
Lalu tak pernah menyangka, dan tak pernah mampu menerka, akan berakhir seperti apa kita.

Jadi, ini tentang cerita kita.
Yang sedang duduk di ujung lorong perjuangan.
Itu kamu ? Ini kamu ?
Kita itu nyata ?

Jadi, ini tentang cerita kita.
Tapi kali ini aku urung memakai tanda kurung.
Karena ku pikir, sudahkah habis ketenangan - ketenangan yang selalu kita dapatkan ?
Ah, waktu memang penipu ulung.
Semua tentang kita seakan tiba-tiba habis tergulung.

Setangah mengantuk ku ikuti apa yang hati ingin tulis,
Rupanya belum sempat aku menikmati imaji
"kita" sudah datang mengganggu lagi


PONSEL

oke, sebut saja ini sebagai "etika ber-ponsel", dimana kalian perlu menempatkan diri, kapan waktu untuk memberi perhatian pada handphone dan kapan sepenuhnya perhatian kalian ada pada orang-orang disekitar. 

sibuk sendiri dengan handphone kadang bisa jadi "trouble maker" banget. like a.. ketika menghabiskan waktu dengan keluarga, teman, atau pacar, sudah sepatutnya kita fokus untuk berinteraksi dengan mereka - bukan dengan handphone. right ? 
ketika saya sedang berada dalam "killing time" bersama sahabat-sahabat saya, sebisa mungkin saya akan menjauhkan ponsel dari tangan saya. begitu juga sahabat-sahabat saya - akan saling tegur. kita benar-benar menerapkan aturan, tidak ada yang diijinkan bermain dengan ponselnya ketika sedang berkumpul. semua ponsel dikumpulkan ditengah meja.. dan kita bisa asik berbagi cerita.. benar-benar menikmati quality time bersama.
ketika saya berada dalam "killing time" bersama pacar saya, sebisa mungkin saya akan men…

Begitu Saja.

ketika berusaha keras mengingat apa yang ku katakan saat itu, aku tidak berhasil, ah sungguh. yang aku ingat adalah bagaimana aku menyampaikannya, aku berbicara dengan kalimat yang terputus-putus, perlu jeda untuk memikirkan kata-kata apalagi yang akan ku keluarkan. aku bahkan kebingungan sendiri dengan perkataan yang keluar dari mulutku. aku jadi serba salah.
setidaknya saat mengatakan itu, aku nyaman-nyaman saja. dan sebenarnya, dia tidak benar-benar memperlakukanku dengan buruk. dia hanya tidak jarang 'tidak' melibatkan aku dalam aktivitasnya, itu berarti hampir 99% aku tidak dilibatkan tetapi dia selalu terlibat dengan kebanyakan aktivitasku. dia hanya tidak pernah memedulikanku tetapi dia teramat sangat mengkhawatirkanku. dia hanya terlalu punya banyak waktu, hingga membuatku begitu iri. setidaknya itu lebih baik daripada dia meninggalkanku, kan ?
jadi aku tidak bermasalah dengannya. aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri.
itu saja.