Langsung ke konten utama

Perkenalan Pertama, Petaka !

Dari jarak yang tidak seberapa jauh, disapanya mereka... seraya dengan senyuman yang menandakan betapa akrabnya hubungan mereka, iya aku mengetahuinya persis siapa yang disapanya. dan... "kenalin !" 

Siapa sangka, perkenalan pertama diparkir kampus biru malam itu berdampak buruk untuk kita. sejak awal mungkin sudah ada keganjalan dengan kami. sedikit banyak aku merasakan dari setiap kata atau mungkin tingkah yang mereka tunjukkan. aku diam, bukan berarti aku membiarkan mereka terlalu banyak mencampuri urusanku, tapi 'mungkin' diam untuk membalas mereka lebih gila. iya, itu aku ! picik kataku, siapa suruh mencampuri urusanku ?

membiarkan... mengabaikan... sekali lagi ini terlalu jauh mereka mencampuri urusanku. sampai akhirnya, membuat kita bertemu dengan rasa lain dari cinta, benci dan kecewa yang mendalam.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabar-Kabar Lagi Nanti !

Apa kabar berkali-kali kau bilang "goblok" separuh bagianku ini ? Tapi aku ganti baru sekali saja, kau bilang sakitnya setengah mati ! 🤣 Lalu pernah tidak kau tanyakan bagaimana kabar ku begini ? Biar tidak hanya melalu kamu yang tidak boleh tersakiti. Oke, aku nanti kabar-kabar berikutnya.. Pokoknya kamu harus bahagia ! Kamu harus menang seenaknya. Ya !

Penuh Sesak.

Hatiku penuh sekali hari ini ! Penuh sesak. Lelah. Teramat. Sepertinya memang sudah banyak sekali yang dipendam hatiku ini. Selalu saja dibiarkan. Menumpuk kemudian. Aku takut tiba-tiba saja hati itu meledak. Meledak karena penuh sesak.

Aku Menyayangkan, Sayangnya...

sayangnya, aku bukan tipikal wanita yang berjuang lebih keras dari umumnya hanya untuk laki-laki sepertimu. sayangnya, aku lebih memilih tidak lagi peduli daripada harus memaafkanmu berulang untuk kesalahan yang selalu sama.  sayangnya, aku lebih membutuhkan laki-laki yang penuh pengertian lebih ketimbang laki-laki yang penuh tuntutan. sayangnya, aku lebih menghargai laki-laki yang mau diajak susah ketimbang laki-laki yang maunya enak saja. sayangnya, aku bukan wanita yang membiarkan laki-lakiku mengencani wanita lain. sayangnya, aku wanita yang tidak bisa tinggal diam ketika aku dikecewakan, bahkan aku bisa membalasnya jauh lebih menyakitkan. sayangnya, aku wanita yang lebih memilih untuk mengakhiri daripada menjalani hanya dengan kesakitan. sayangnya, aku wanita yang susah memberi kalau kepercayaan sudah disia-siakan. sayangnya, aku lebih mendengarkan kata hatiku untuk meninggalkan, daripada kata-kata tanpa usahamu agar aku tetap tinggal. sayangnya, aku adalah aku, aku bukan aku yang...