Langsung ke konten utama

Ini, Kamu...

Apalah itu namanya persamaan, apa perbedaan ? pendapat ? lingkungan ? agama ? 

Apalah, yang terpenting adalah apa yang membuat saya jatuh pada sosok seperti dia, membuat saya ingin tetap tinggal. dia tampan, tidak saya bilang. dia berlimpahan materi, tidak juga.

Mencari yang lebih tampan, mudah ! mencari yang lebih bisa menjanjikan materi, mudah. tinggal saya berbuat tidak sopan ! tapi mencari yang lebih nyaman, itu pekerjaan lain, tidak mudah !

Terlalu banyak sosok yang mondar-mandir didepan sini, selalu saya biarkan masuk dan saya persilahkan duduk diruang tamu hati saya, yang hancur ini. silahkan menikmati seadanya, dan saya mempersilahkan pergi dengan sopan jika sudah tidak betah disni. jatuhnya, yang kuat dan mampu bertahan yang akan tetap tinggal diruang tamuku yang hancur ini.

Ini, sosok yang tidak begitu tampan, sosok yang bisa merobohkan keras dinding saya, sosok yang bisa memuntahkan sudut pandang saya, sosok menyebalkan yang sering berkata tidak pada maunya saya, sosok yang bisa mendengar opini saya, dan banyak lainnya, yang selalu bisa membuat saya ingin bepat bertemu lagi, membicarakan cerita seru, cerita lalu, teka-teki tidak lucu, emm... atau kemungkinan masadepan baru (kita).

Ini, sosok yang kehadirannya lebih saya butuh dan saya inginkan untuk berbagi cerita, tertawa bersama, dibanding dengan pelukan dan ciuman mesrah bertukar liur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabar-Kabar Lagi Nanti !

Apa kabar berkali-kali kau bilang "goblok" separuh bagianku ini ? Tapi aku ganti baru sekali saja, kau bilang sakitnya setengah mati ! 🤣 Lalu pernah tidak kau tanyakan bagaimana kabar ku begini ? Biar tidak hanya melalu kamu yang tidak boleh tersakiti. Oke, aku nanti kabar-kabar berikutnya.. Pokoknya kamu harus bahagia ! Kamu harus menang seenaknya. Ya !

Penuh Sesak.

Hatiku penuh sekali hari ini ! Penuh sesak. Lelah. Teramat. Sepertinya memang sudah banyak sekali yang dipendam hatiku ini. Selalu saja dibiarkan. Menumpuk kemudian. Aku takut tiba-tiba saja hati itu meledak. Meledak karena penuh sesak.

Garis-Garis Milik Sang Busur

Garis-garis yang terbuat begitu persis semua lekukannya. Tepat ! Itu memang garis-garis milik sang busur. Tapi entah kenapa garisku di dalam sini semakin membujur kaku. Padahal tak biasanya garisku begitu.  Apa aku menyesal mengikuti garis yang se-demikian ? Tidak juga. Emm.. atau bisa saja. Semua tergantung harus memilih garis milik siapa. Jangan... jangan siapa, tapi mari kita buat semua tergantung harus memilih garis yang bagaimana saja.