Langsung ke konten utama

Menunggu Pedangku sebagai Kado yang Menusukmu Terlebih Dahulu ?

katamu, aku seperti berubah atau tidak ada aku sama sekali yang kamu tahu ? aku lalu seperti menghilang dari dialog semalaman.

aku bukan tak suka, tapi perihal kamu yang begini selalu menarik urat tertawaku tiba-tiba.

kamu tidak jahat, tapi pelan-pelan memaksaku menelan banyak pil dopping agar aku tetap tegak ditebas pikiran demi pikiran tentang keadaan kamu yang begini – jadi tempatku berkontra.

aku tetap dipaksa berpikir untuk peduli, yang jelas bisikan koloni-koloni itu muncul dari hati. Sebuah kepedulian yang ku harap tidak berakhir menjadi sebuah pedang sebagai kado yang menusukmu sewaktu-waktu - ketika bisikan koloni-koloni dari hati itu mulai tak muncul lagi ditelingaku.

jadi, ada yang ingin ku tanyakan “masih mau mendatang dan seterusnya seperti ini, kamu ? atau harus menunggu pedangku sebagai kado yang menusukmu terlebih dahulu ?”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabar-Kabar Lagi Nanti !

Apa kabar berkali-kali kau bilang "goblok" separuh bagianku ini ? Tapi aku ganti baru sekali saja, kau bilang sakitnya setengah mati ! 🤣 Lalu pernah tidak kau tanyakan bagaimana kabar ku begini ? Biar tidak hanya melalu kamu yang tidak boleh tersakiti. Oke, aku nanti kabar-kabar berikutnya.. Pokoknya kamu harus bahagia ! Kamu harus menang seenaknya. Ya !

Penuh Sesak.

Hatiku penuh sekali hari ini ! Penuh sesak. Lelah. Teramat. Sepertinya memang sudah banyak sekali yang dipendam hatiku ini. Selalu saja dibiarkan. Menumpuk kemudian. Aku takut tiba-tiba saja hati itu meledak. Meledak karena penuh sesak.

Aku Menyayangkan, Sayangnya...

sayangnya, aku bukan tipikal wanita yang berjuang lebih keras dari umumnya hanya untuk laki-laki sepertimu. sayangnya, aku lebih memilih tidak lagi peduli daripada harus memaafkanmu berulang untuk kesalahan yang selalu sama.  sayangnya, aku lebih membutuhkan laki-laki yang penuh pengertian lebih ketimbang laki-laki yang penuh tuntutan. sayangnya, aku lebih menghargai laki-laki yang mau diajak susah ketimbang laki-laki yang maunya enak saja. sayangnya, aku bukan wanita yang membiarkan laki-lakiku mengencani wanita lain. sayangnya, aku wanita yang tidak bisa tinggal diam ketika aku dikecewakan, bahkan aku bisa membalasnya jauh lebih menyakitkan. sayangnya, aku wanita yang lebih memilih untuk mengakhiri daripada menjalani hanya dengan kesakitan. sayangnya, aku wanita yang susah memberi kalau kepercayaan sudah disia-siakan. sayangnya, aku lebih mendengarkan kata hatiku untuk meninggalkan, daripada kata-kata tanpa usahamu agar aku tetap tinggal. sayangnya, aku adalah aku, aku bukan aku yang...