Langsung ke konten utama

Postingan

Sakit Me-Rindu

Sakit berusaha memaklumi.  Hanya itu yang dia bisa.  Memaklumi itu bagian dari usahanya untuk memelihara cintanya pada Rindu.  "Boleh aku duduk ?" Sejak kapan aku bisa melarangmu ? Kata-kata itu, terlalu sering.  Sudut mataku meledak, magma didadaku tumpah begitu saja. Itu kesekian kalinya Rindu mendatangi. .... Disini, apapun resahmu pasti akan bubung ke udara. Untuk beberapa alasan kopi rasanya lebih nikmat kau seduh bersama Sakit dan Rindu. 

Sepatah Alasan

Nyaris membuatku terpelak. Sungguh, aku sendiri takjub dibuatnya. Kepalaku pening. Dadaku kembali berdetak kencang kala mendapatinya, tapi ada sebuah pertanyaan terbetik dalam benakku. Tik Tok Tik Tok, Lupakan saja pertanyaanku. "Aku benar-benar membenci semua ini." Tak tanggung-tanggung, barang sekali duakali aku bisa saja takkan tersinggung. Tak ada reaksi apapun, aku pun tergantung. Hanya menunggu detik air mataku mengantung. Semula ku pikir bahwa hal ini akan seperti yang sudah-sudah, terkubur... seolah semua baik-baik saja, namun ternyata kali ini aku yang salah menduga. 'Menenangkanku, Menyentuhku' saja enggan. Apalagi yang harus ku paksakan ? Masih saja ingin mendapat alasan ? Ya ! Alasan kita memulai. Agar kita tidak gampang mengakhiri !

Jadi, Ini Tentang Cerita Kita

Jadi, ini tentang cerita "kita". Mungkin kau hampir bosan ketika berulang-ulang aku menuliskan ini, tentang ketenangan yang telah pecah seperti gelas kaca yang diam-diam jatuh dan pecah. Bosan sekali. Lalu tak pernah menyangka, dan tak pernah mampu menerka, akan berakhir seperti apa kita. Jadi, ini tentang cerita kita. Yang sedang duduk di ujung lorong perjuangan. Itu kamu ? Ini kamu ? Kita itu nyata ? Jadi, ini tentang cerita kita. Tapi kali ini aku urung memakai tanda kurung. Karena ku pikir, sudahkah habis ketenangan - ketenangan yang selalu kita dapatkan ? Ah, waktu memang penipu ulung. Semua tentang kita seakan tiba-tiba habis tergulung. Setangah mengantuk ku ikuti apa yang hati ingin tulis, Rupanya belum sempat aku menikmati imaji "kita" sudah datang mengganggu lagi

PONSEL

oke, sebut saja ini sebagai "etika ber-ponsel" , dimana kalian perlu menempatkan diri, kapan waktu untuk memberi perhatian pada handphone dan kapan sepenuhnya perhatian kalian ada pada orang-orang disekitar.  sibuk sendiri dengan handphone kadang bisa jadi "trouble maker" banget. like a.. ketika menghabiskan waktu dengan keluarga, teman, atau pacar, sudah sepatutnya kita fokus untuk berinteraksi dengan mereka - bukan dengan handphone . right ?  ketika saya sedang berada dalam "killing time" bersama sahabat-sahabat saya, sebisa mungkin saya akan menjauhkan ponsel dari tangan saya. begitu juga sahabat-sahabat saya - akan saling tegur. kita benar-benar menerapkan aturan, tidak ada yang diijinkan bermain dengan ponselnya ketika sedang berkumpul. semua ponsel dikumpulkan ditengah meja.. dan kita bisa asik berbagi cerita.. benar-benar menikmati quality time bersama. ketika saya berada dalam "killing time" bersama pacar saya, sebisa mungk...

Begitu Saja.

ketika berusaha keras mengingat apa yang ku katakan saat itu, aku tidak berhasil, ah sungguh. yang aku ingat adalah bagaimana aku menyampaikannya, aku berbicara dengan kalimat yang terputus-putus, perlu jeda untuk memikirkan kata-kata apalagi yang akan ku keluarkan. aku bahkan kebingungan sendiri dengan perkataan yang keluar dari mulutku. aku jadi serba salah. setidaknya saat mengatakan itu, aku nyaman-nyaman saja. dan sebenarnya, dia tidak benar-benar memperlakukanku dengan buruk. dia hanya tidak jarang 'tidak' melibatkan aku dalam aktivitasnya, itu berarti hampir 99% aku tidak dilibatkan tetapi dia selalu terlibat dengan kebanyakan aktivitasku. dia hanya tidak pernah memedulikanku tetapi dia teramat sangat mengkhawatirkanku. dia hanya terlalu punya banyak waktu, hingga membuatku begitu iri. setidaknya itu lebih baik daripada dia meninggalkanku, kan ? jadi aku tidak bermasalah dengannya. aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri. itu saja. 

Saa-Yang.

kamu jelas biasa-biasa saja, bahkan bisa ku bilang - bukan typeku sama sekali. rambutmu lebih sering berantakan ketimbang tersisir rapi. kamu lebih memilih celana jeansmu yang robek-robek ketimbang celana kain. dengan santai kamu peragakan joget-joget dikeramaian yang bagiku itu memalukan. ah, sungguh tidak ada sisi dirimu yang membuatku ingin mengungkapkan kata-kata istimewa. aku nyaman, cinta - sudah itu saja. baru denganmu aku belajar mengolah banyak rasa. baru denganmu nuansa percintaanku berbeda.  kita memang saling jatuh hati, tak berpelak lagi. sesekali kamu merengek manja, minta diperhatikan. pun bukan cuma sekali kamu mengeluh agar aku lebih ringan menunjukkan kata sayang. lebih sering ku tanggapi protesmu dengan lelucon ringan, aku harap kamu tau bukan itu yang ku maksudkan, bukan disisi itu permainan yang sedang kubangun bersamamu. sebelumnya aku meminta maaf atas kekecewaan yang ku timbulkan. alih-alih panggilan sayang, hehe kamu akan lebih sering melih...

Selagi Hatiku Masih Punya Ruang

aku sempat meyakini, aku bisa merubahmu dengan perangkat sesedarhana ini - cinta. naifnya. kini aku tak punya pilihan, aku harus menjadi dewasa dengan berhenti mengharapkan sesuatu yang 'memang' sulit dicapai realita. realita yang jatuh kepelipis tiba-tiba. aku tak bilang ini mudah. namun saat segala hal sudah ku coba untuk melakukan, semuanya terasa begitu lega. pada akhirnya memang disetiap perjuangan yang tak pernah dihargai akan terlahir kata "menyerah." tenang saja, Mas. aku tak akan pernah melupakan siapa saja yang pernah mengikatku dalam sebuah hubungan, termasuk kau. hanya kutinggalkan.  aku benar-benar meninggalkanmu sekarang, selagi hatiku masih punya ruang untuk cinta yang akan datang.