Langsung ke konten utama

19 Menit Lagi Aku Sampai.

aku ke atas tanpa bergegas lagi. aku melangkah santai, rasanya jantungku sudah tidak mampu diajak berjalan cepat lagi. aku melihat layar Blackberry ku, melangkah menuju ruang inap Ijun.
....
aku sudah sampai dilorong tak jauh dari ruangannya. aku berusaha mengalihkan pandanganku dari pintu itu seakan bisa menemukan jawaban atas semua kebingunganku, aku ragu.
kuhela nafasku. akhirnya aku memasuki ruangannya. aku tidak bisa menahannya tadi, dorongan itu begitu besar, untuk melihat wajahnya, mendengar suaranya, dan.. keadaannya sekarang.
aku benci firasat-firasat tak jelas ini.
... aku melihat ke ujung sebelah kanan, yang hanya dibatasi pagar besi. dari balik pagar besi itu terang matahari menyerbu masuk ke ruangan ini, menyapu wajahnya yang pucat pasi. lamunanku pecah saat ku dengar dia memanggil namaku. ia tersenyum ke arahku, aku membalasnya. aku mendekatinya, meraih tangan dan mencium punggungnya.
ku peluk dia...
meski ku tahu dia takkan bisa membalas pelukanku, lagi.. tubuhnya sudah dingin - kaku. oh, suara itu, senyum yang melengkung dibibirnya tadi... oh, dia ingin mengisyaratkan aku untuk tetap tersenyum esok nanti, setelah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabar-Kabar Lagi Nanti !

Apa kabar berkali-kali kau bilang "goblok" separuh bagianku ini ? Tapi aku ganti baru sekali saja, kau bilang sakitnya setengah mati ! 🤣 Lalu pernah tidak kau tanyakan bagaimana kabar ku begini ? Biar tidak hanya melalu kamu yang tidak boleh tersakiti. Oke, aku nanti kabar-kabar berikutnya.. Pokoknya kamu harus bahagia ! Kamu harus menang seenaknya. Ya !

Penuh Sesak.

Hatiku penuh sekali hari ini ! Penuh sesak. Lelah. Teramat. Sepertinya memang sudah banyak sekali yang dipendam hatiku ini. Selalu saja dibiarkan. Menumpuk kemudian. Aku takut tiba-tiba saja hati itu meledak. Meledak karena penuh sesak.

Garis-Garis Milik Sang Busur

Garis-garis yang terbuat begitu persis semua lekukannya. Tepat ! Itu memang garis-garis milik sang busur. Tapi entah kenapa garisku di dalam sini semakin membujur kaku. Padahal tak biasanya garisku begitu.  Apa aku menyesal mengikuti garis yang se-demikian ? Tidak juga. Emm.. atau bisa saja. Semua tergantung harus memilih garis milik siapa. Jangan... jangan siapa, tapi mari kita buat semua tergantung harus memilih garis yang bagaimana saja.