Langsung ke konten utama

Cinta (Mata Uang)

"dia bukan yg paling disukai. dia hanya punya tubuh seksi, dan itu saja yang dipedulikan oleh segerombolan pria-pria itu"

"dua gelas limun" tambahku kepalayan. aku mengabaikan perkataan orang disampingku, Sasi.
kita baru beberapa menit disini, dan sudah saling serang. oh, bukan kita.. tapi Sasi, dengan perempuan seksi diujung sebelah sana tadi.

suara mereka berdua sangat berisik, benar-benar seperti harimau binal yang ingin saling menerkam.
"oke, pergilah dan lakukan peran gadis lajangmu untuk priaku, pria ingusan itu !" itu kalimat terakhir yang kudengar dari mulut Sasi. aku terpaksa pergi, berpindah meja, membawa kedua limunku.

awalnya aku sangat menikmati sekali tempat ini, tapi tidak lagi sekarang.
"bagaimana perasaanmu ?" tanyaku
"aneh. aku tahu kalau sampai di akhir, ini semua akn terjadi, tapi rasanya sekarang benar-benar nyata".
"yaa, aku tidak menyangka akan selesai seperti ini."
"yap, kurasa inilah saatnya."

kata cinta punya nilai bagi kami saat itu, seperti mata uang yang kami simpan dengan pelitnya dan memberikannya hanya ketika kami tahu bahwa balasan yang kami terima cukup berharga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabar-Kabar Lagi Nanti !

Apa kabar berkali-kali kau bilang "goblok" separuh bagianku ini ? Tapi aku ganti baru sekali saja, kau bilang sakitnya setengah mati ! 🤣 Lalu pernah tidak kau tanyakan bagaimana kabar ku begini ? Biar tidak hanya melalu kamu yang tidak boleh tersakiti. Oke, aku nanti kabar-kabar berikutnya.. Pokoknya kamu harus bahagia ! Kamu harus menang seenaknya. Ya !

Penuh Sesak.

Hatiku penuh sekali hari ini ! Penuh sesak. Lelah. Teramat. Sepertinya memang sudah banyak sekali yang dipendam hatiku ini. Selalu saja dibiarkan. Menumpuk kemudian. Aku takut tiba-tiba saja hati itu meledak. Meledak karena penuh sesak.

Menjadi Lumpuh...

Dulu tegap berdiri, apa-apa bisa sendiri ! Sekarang.. bahkan hanya untuk berdiri tanpa bergerak saja dia tak mampu lagi. Sungguh aku mengasihaninya... Kakinya patah sebab dia menginjak pijakan yang salah ! Pijakan yang lama-lama membuat kakinya alih-alih semakin kokoh sempurna malah menjadi sama sekali tidak berguna. Sungguh lagi-lagi aku jadi mengasihaninya... Kau jangan sekali-sekali ingin menjadi seperti dia jika kelak kau tidak ingin kehilangan kekuatan kakimu dan menjadi lumpuh juga !