Langsung ke konten utama

Pengganti Hujan adalah Hujan

"sudah tidak lagi penting. aku sudah menemukan penggantinya. aku sudah menemukan kembali sumber kehidupanku ! sekarang aku harus pergi menemuinya. aku tak ingin melepaskannya."

"dan kau ingat, seberapa terpuruknya aku begitu mengetahui hujan tak lagi peduli ?" senyuman yang tadi melebar sekarang menyusut, menjadi torehan kecewa. tapi kemudian ku geleng-gelengkan kepala, dan senyum ku kembalikan merekah.

"kau tahu kan seberapa besar aku bergantung pada hujan ? seluruh jiwaku adalah miliknya."

"hujan ! aku sudah menemukan pengganti hujan !" teriakku lagi dengan mata yang bisa kau lihat... mata yang berbinar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabar-Kabar Lagi Nanti !

Apa kabar berkali-kali kau bilang "goblok" separuh bagianku ini ? Tapi aku ganti baru sekali saja, kau bilang sakitnya setengah mati ! 🤣 Lalu pernah tidak kau tanyakan bagaimana kabar ku begini ? Biar tidak hanya melalu kamu yang tidak boleh tersakiti. Oke, aku nanti kabar-kabar berikutnya.. Pokoknya kamu harus bahagia ! Kamu harus menang seenaknya. Ya !

Penuh Sesak.

Hatiku penuh sekali hari ini ! Penuh sesak. Lelah. Teramat. Sepertinya memang sudah banyak sekali yang dipendam hatiku ini. Selalu saja dibiarkan. Menumpuk kemudian. Aku takut tiba-tiba saja hati itu meledak. Meledak karena penuh sesak.

Garis-Garis Milik Sang Busur

Garis-garis yang terbuat begitu persis semua lekukannya. Tepat ! Itu memang garis-garis milik sang busur. Tapi entah kenapa garisku di dalam sini semakin membujur kaku. Padahal tak biasanya garisku begitu.  Apa aku menyesal mengikuti garis yang se-demikian ? Tidak juga. Emm.. atau bisa saja. Semua tergantung harus memilih garis milik siapa. Jangan... jangan siapa, tapi mari kita buat semua tergantung harus memilih garis yang bagaimana saja.